PARA tokoh desa sudah duduk bersila di atas panggung yang dibangun dengan atap tenda di bawah pohon besar yang tampak berwibawa dan memancarkan pesona magis. Di pohon besar itu-menurut kepercayaan setempat-bersemayam danyang, pepunden, atau leluhur, atau roh penjaga desa. Dialah yang pada siang itu, dan malam nanti, ketika pertunjukan wayang kulit berlangsung, yang menjadi pusat perhatian seluruh penduduk desa.
Rombongan tamu-para priyayi Solo-satu per satu menyusul dengan tertib ke panggung. Ada Sardono W Kusumo, ada sejarawan Soedarmono, ada psikolog Yayah Kisbiyah, ada Taufik Rahzen, sejumlah aktivis LSM, para seniman, juga dosen-dosen, dan sejumlah wartawan. Saya pun hadir. Di sana saya orang asing. Minat saya besar untuk mengikuti upacara tradisional desa itu. Orang menyebut acara-yang diadakan tiap tahun sekali-itu “bersih desa”. Biarpun secara kultural saya sudah tercabut dari desa sejak kelas satu SMP, saya ingat di kampung saya acara itu tak ada.
Filed under: Buku Kang Sejo, Mohammad Sobary